REPORTASE INDONESIA APPAREL PRODUCTION EXPO 2015 (BAG. 2)

16 Maret 2017

Reportase pameran bulan Maret 2015, kok baru dilaporkan tahun 2017 :(

Ibarat posting di instagram, perlu ditambahkan tagar throwback.

Hmmmm

Karena keterbatasan sumber daya, banyak tulisan saya yang terlambat lama banget.

Tapi tidak mengapalah, toh ilmu yang didapat masih belum basi. Masih relevan dengan dunia cetak digital saat ini, hehehe.

Oh iya, yang belum sempat baca reportase bagian pertama bisa cek di sini.

Jadi, selesai mengikuti seminar, saya memutuskan untuk berkeliling seluruh stand dalam pameran. Total lebih dari 15 stand yang dibuka. Sayapun keliling untuk melihat-lihat.

Peserta stand cukup beragam dan kebanyakan adalah suplier yang  masih ada kaitannya dengan kebutuhan produksi dalam industri sandang.

Ada suplier untuk alat-alat bordir, sablon, mesin jahit, mesin grafir, mesin cetak sublime, penyedia jasa cetak label sampai penjual kipas exhaust pabrik.

Mesin Grafir:

Mesin Bordir:

Ada yang butuh label? Bukan label rekaman, tapi label kaos untuk merek clothing:

Penjual mesin DTG juga ada, namun tidak banyak. Hanya ada sekitar 4 mesin DTG yang saya lihat disana.

Satu mesin DTG rakitan lokal berbasis Epson 1390. Satu mesin rakitan (sepertinya rakitan Tiongkok) berbasis Epson 4880. Satu mesin DTG Freejet rakitan Korea, berbasis Epson juga. Dan terakhir adalah mesin DTG resmi dari Epson, dengan tipe Epson SureColor F2000.

Sayangnya, tidak ada satupun mesin DTG yang sedang melakukan demo produksi pada saat itu. Tapi di dekat setiap mesin tersebut terdapat hasil cetak yang bisa disaksikan oleh pengunjung pameran.

Epson SureColor F2000:

Saya ingat pada waktu itu mampir di salah satu stand untuk menanyakan perihal mesin DTG yang dia jual.

Dalam perbincangan yang kami lakukan, mas sales malah cenderung menganjurkan untuk membeli mesin cetak sublim daripada DTG. Intinya, DTG itu ribet. Lebih menguntungkan jika berbisnis cetak digital dengan teknik sublim daripada teknik DTG.

Sebenarnya saya juga tertarik untuk memiliki mesin sublim. Karena pasarnya ada, dan saya punya ide sandangan yang bisa dihasilkan oleh mesin cetak jenis sublim. Namun modal yang dikeluarkan jauh lebih besar.

Yah, kita lihat sajalah besok beberapa tahun ke depan. Sekarang ditekuni dulu saja apa yang tersedia, hehe. Siapa tau mas sales tadi salah, bisnis cetak DTG bisa sama menguntungkan dengan sublim.

Mesin Cetak Sublim:

Rotary Heat Press:

Beralih ke stand lain.

Di pojokan dalam gedung ada satu stand sablon manual dari Lucas Screen Printing Suplies (Lucas SPS). Stand ini memajang aneka peralatan sablon manual dan contoh hasil sablon. Contohnya bagus-bagus.

Beberapa contoh menggunakan desain untuk merchandise band Metal. Trend desain untuk kaos metal, biasanya mengacu pada gaya ilustrasi atau digital imaging dengan model pewarnaan gradasi. Sehingga diperlukan teknik pisah warna maupun spot color seakurat mungkin. Selain itu peletakan screen sablon juga harus presisi supaya posisi warna yang satu dengan yang lain tidak mleset ketika digesut.

Walaupun Dek Dipi mengusung teknik digital, tapi tetap masih ngefans dengan teknik manual untuk pesanan dalam jumlah banyak dan kain warna gelap. Apalagi kalau teknik pisah warnanya mumpuni seperti contoh di stand Lucas SPS.

Stand Lucas SPS:

Oh, iya. Ternyata … seminar ini juga akan diadakan di Yogyakarta besok Agustus 2015 di Jogja Expo Center. Saya taunya waktu browsing-browsing poster untuk tambah-tambah materi tulisan ini.

Kalau tau begitu saya berkunjung ke pamerannya besok Agustus saja. Dan kalau boleh usul sama panitianya biar kami yang mengisi bagian seminar D.T.G supaya lebih seru dan lebih lengkap dari seminar yang mereka bawakan hehehe.

Demikian reportase Dek Dipi dari Indonesia Apparel Production Expo 2015 – Solo.

 


 

*Tambahan:

Selang waktu setahun sejak pameran itu, saya mendatangi acara pameran yang serupa di Yogyakarta.

Kenapa saya bilang serupa?

Karena pada tanggal 27-30 Agustus 2015 tidak ada acara Indonesia Apparel Production Expo. Namun pada tanggal 31 Oktober - 3 November diadakan acara Grafika Expo 2015 bertempat di Jogja Expo Center.

Saya kurang paham apa bedanya, tapi pihak peyelenggara sama-sama dari More Media. Isi pameran juga mirip dengan acara IAPE Solo 2015 pada bulan Maret. Namun saya lihat peserta pamerannya lebih sedikit dan cenderung sepi pengunjung, entah kalau hari lainnya.

Sedangkan pada tahun 2016, acara yang digelar juga bertajuk Indonesia Grafika Expo. Diadakan tanggal 24 -27 November 2016.

Saya datang pada hari terakhir di malam hari, ternyata banyak stand yang mengikuti acara ini. Sialnya, saya datang pada saat semua peserta pameran mulai mengemasi barang-barang mereka.

Padahal ada satu teknik cetak digital yang membuat saya penasaran, yaitu teknik transfer toner. Mesin yang digunakan adalah mesin print laser dengan merek OKI. Namun printer maupun contoh cetaknya sudah dikemasi, saya hanya sempat mengobrol sedikit dengan salesnya.

Saya pikir pameran ini diadakan rutin setiap tahun, jadi ada kemungkinan tahun 2017 ini juga ada. Dan memang setelah saya cek fanspage Indonesia Grafika Expo, tahun 2017 ini di Jogja juga akan diadakan lagi. Namun untuk waktu pelaksanaan masih belum diberitakan.

Semoga Indonesia Grafika Expo 2017 sama ramainya dengan tahun 2016, dan nantikan reportasenya dari Dek Dipi.